About Me

My photo
petite, talk active, books lover, mind jumper

Monday, April 11, 2011

Cerita Itu Takkan Pernah Usai


Hari ini tiba-tiba aku teringat Ibu kembali. Teringat ketika aku menemui Ibu di airport  sebelum berangkat umroh. 
Salah satu rombongan umroh Ibu bertanya: “Ini cucu Ibu ya?” Aku  menjawab dengan senyum : “Bukan, saya anak Ibu bukan cucunya”.
Dan Ibu menyambung dengan kalimat : “Cucu saya masih kecil”.

Aku tidak memperoleh cerita lengkap perjalanan umroh Ibu, karena saat aku pulang memori Ibu sudah tidak selengkap dulu. Tapi yang pasti, aku mendapat satu sajadah dari Ibu, yang sudah disiapkannya untukku. Adikku yang memberikan padaku, saat itu Ibu bilang : simpan satu untuk kakakmu.

Kepulangan Ibu ke rumah-Nya masih belum lama, dan aku kadang merasa Ibu masih ada. Entah berapa kali, saat ada hal yang bisa dan ingin  aku tanyakan ke Ibu, aku meraih handphone dan ingin menelpon Ibu, dan saat itu aku baru sadar, Ibu sudah pergi.

Ibu, aku tahu, aku tidak boleh membebani Ibu dengan perasaanku. Tapi aku ingin Ibu tahu, aku sungguh berharap bisa mendengar cerita lengkap perjalanan umroh Ibu. Aku ingin Ibu tahu, aku sungguh rindu percakapan kita lewat telepon tiap minggu..

Piring , Nina dan Gina

Seorang teman bercerita, tetangganya, pasangan usia senja memiliki sepasang piring yang selalu dipakai dari awal menikah hingga sampai maut memisahkan mereka.


Sepasang piring itu diperuntukkan hanya buat mereka, dan tidak ada yang boleh memakainya. Sayang cerita ini berakhir tidak bahagia, sang suami meninggalkan sang istri untuk menghadap-Nya. 

Dan saat ini, piring itu hanya dipakai sendiri oleh sang istri yang selalu berurai air mata setiap menggunakannya.


Teman lain di benua yang berbeda ,mempunyai hobby menamakan gadgetnya dengan Nina. Dan bercerita di dunia maya, bahwa dia sedang berduka. Karena si Nina, telah habis masa tugasnya.

Aku juga punya nama, untuk benda yang aku suka. Namanya Gina,  gambar jerapah yang diberikan seseorang, saat awal-awal yang menimbulkan perasaan bahagia...

Sunday, April 10, 2011

Persahabatan

Perkenalkan, kami datang dari berbagai lingkungan, dengan satu tujuan : pertemanan.

Panggil dia Doni, dari Bukit Tinggi. Hobby-nya menulis dan me-review film dan tidak keberatan mendengarkan  curahan hati. Paling suka berteori dan pendorong semangat sejati. 

Sebut dia Deni, paling chubby, pendiam namun pemerhati.  Jangan tanya, celetukannya mampu mengubah suasana jadi ria dan selalu suka menolong dengan rela.

Well,dia Tiur. Gadis Batak asli Surabaya. PNS bersahaja yang bercita-cita bekerja di TV swasta. Selalu berusaha untuk ikut di setiap acara namun sering lupa bahwa waktu tidak selamanya ada. 

Ah, namanya Fahri. Kesayangan seluruh teman. Bekerja sebagai finance dan kehadirannya selalu tanpa beban.

Sebut dia Ladya, art-ist sejati. Cantik dan baik hati. Petualang dan selalu suka belajar tanpa henti. Mempesona serta penyeimbang diri untuk setiap suasana hati.

Dan saya? Seseorang yang beruntung dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu siap berbagi  di setiap saat..

Friday, April 8, 2011

Cerita Capung

Mendadak aku rindu menangkap capung, mengikatnya dengan benang, menyisipkan sayap kertas bak pesawat terbang dan menerbangkannya di tengah padang ilalang.
Padang ilalang di tanah kosong di samping rumahku di kampung halaman.

Dan capung-capung pun berputar di benakku bagai film yang muncul dari masa lalu.

Lihat itu Capung Kerbau, paling besar, gagah dengan tubuh berwarna hijau bagai sang Raja. Di ujung padang, seekor capung cantik melintas, ya dia Capung Emas, capung paling cantik dengan sayap dan badannya yang kemerahan.

Hoho, ini favoritku dan satu kebanggaan jika berhasil menangkapnya dengan jepitan ujung jari. Ya Capung Terasi, ramping, berwarna hitam dan paling lincah saat terbang. 

Ah, pandanganku teralihkan oleh seekor capung kecil dan tipis, mirip jarum, mudah patah dan ringkih.Namun warna biru di badannya paling mempesona.Aku menamakannya Capung Jarum.

Semilir angin, wangi rumput, senja yang akan turun,membuatku betah bermain di padang.
Dan biasanya kegiatan menangkap capung itu terhentikan oleh suara Ibu yang memanggilku untuk mandi sore dan bilang bahwa Maghrib sudah menjelang. Sungguh, aku rindu masa itu...